Skip to content

El Classico Jilid III : Bukan Hanya Sekedar Pertandingan Sepakbola

Tulisan ini dikutip sepenuhnya dari notes saudara Sam’ani Kurniawan di Facebook, 27 April 2011

Leg I semifinal Liga Champions Eropa antara Real Madrid melawan Barcelona yang akan digelar pada ada Kamis (28/4/2011) dinihari WIB di Santiago Bernabeu dipastikan akan berlangsung seru. Hal ini tidak lepas dari sejarah kedua tim yang merupakan “raksasa” sepakbola bukan hanya di Spanyol tapi juga di dunia. Berbagai prestasi telah ditunjukkan oleh kedua tim, dimana Real Madrid adalah pemegang gelar Liga Champions Eropa sebanyak 9 kali dan Barcelona sebanyak 3 kali. Pertemuan kedua tim juga akan mempertemukan pemain-pemain terbaik terbaik dunia saat ini. Lihat saja, Real Madrid yang mempunyai Kaka dan Cristiano Ronaldo dan Barcelona yang mempunyai Xavi Hernandez dan Lionel Messi akan menjadikan laga ini begitu menarik untuk disaksikan.

El Classico
El Classico

Pertandingan antara Real Madrid dan Barcelona tidak hanya menyajikan pertandingan yang menarik dan bermutu, tetapi juga “mempertaruhkan” gengsi dan “martabat” dua wilayah di Spanyol yaitu Castilla (Real Madrid) dan Catalan (Barcelona). Kedua wilayah tersebut memiliki sejarah panjang dalam pergulatan Spanyol sebagai sebuah Negara. Ini tak lepas dari sejarah Perang Saudara Spanyol, yang berlangsung dari 17 Juli 1936 hingga 1 April 1939.

Perang Saudara Spanyol merupakan konflik antara kelompok Francois (didukung oleh negara-negara Fasis, Italia dan Jerman) yang dipimpin oleh Jenderal Francisco Franco yang melawan kelompok Republikan (didukung gerakan komunis internasional, Uni Soviet) yang dipimpin oleh Presiden Manuel Azaña dari Republik Spanyol Kedua. Basis dukungan kelompok Francois berasal dari masyarakat yang kaya dan konservatif (umumnya Katolik Roma) sedangkan basis kelompok Loyalis berasal dari kelompok sekular, buruh tani dan urban (terutama di wilayah Catalan, Asturias dan Basque). Perang Saudara ini bagi kaum Republikan merupakan perlawanan terhadap tirani, fasisme dan kekuasan gereja yang menindas.

Perang Saudara tersebut dimenangkan oleh kaum Francois. Pasca kemenangan tersebut Jenderal Franco memerintahkan penyiksaan dan pembunuhan terhadap puluhan ribu penentangnya. Jenderal Franco juga melarang penggunaan bendera dan bahasa daerah Catalan.

Melihat kondisi tersebut bangsa Catalan mencari media untuk menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah bangsa. Akhirnya klub sepakbola Barcelona menjadi media dimana orang-orang Catalan dapat berkumpul, berbicara dengan bahasa Catalan dan menunjukkan eksistensi sebagai sebuah bangsa. Barcelona akhirnya mejadi simbol perlawanan Catalonia terhadap Jenderal Franco dan Spanyol. Inilah yang kemudian menyebabkan motto Barcelona adalah El Barça, és més que un club (Barca bukan hanya sekedar klub). Hal ini membuat Jenderal Franco melakukan intimidasi di lapangan, Barcelona dipaksa untuk mengalah dari Real Madrid pada tahun 1941. Barcelona akhirnya kalah 1-11.

Sejarah kelam Perang Saudara Spanyol masih terasa sampai sekarang, dimana bangsa Catalan masih belum bisa sepenuhnya menerima kekejaman rezim fasis Jenderal Franco. Hal ini dapat terlihat dari aksi Puyol dan Xavi yang mengibarkan bendera Catalan seusai kemenangan Spanyol pada Piala Dunia 2010 lalu dan penggunaan bahasa Catalan oleh Guardiola pada saat setiap konferensi pers Barcelona. Maka dari itu, laga El Classico antara Real Madrid melawan Barcelona bukan hanya sekedar pertandingan sepakbola semata tetapi pertaruhan dari harga diri kaum tertindas melawan tiran.

Silakan memilih dimana anda berdiri, membela kaum tertindas atau rezim fasis penindas!

Published inNews

One Comment

  1. Acahanter Acahanter

    Perseteruan itu sudah lama sekali dan tidak asa hubungannya dg bangsa kita, mungkin sama dg kasus aceh dan papua di negara kita..

    Link Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons