Skip to content

HMI dan Pergerakan Mahasiswa Jaman Now

Siapa yang tidak kenal HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), organisasi yang didirikan 71 tahun lalu oleh Lafran Pane di Yogyakarta. Dengan usianya yang tidak lagi remaja, HMI kini telah menjelma organisasi kemahasiswaan ekstra kampus terbesar di negeri ini.

Selain tumbuh dan berkembang pada level kemahasiswaan, spirit ber-HMI juga terus subur hingga ke level alumni-alumninya melalui organisasi Korps Alumni HMI (KAHMI). Karenanya, tidaklah mengherankan jika alumni HMI kini tersebar hampir merata pada setiap sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai organisasi, HMI didirikan untuk tujuan yang sangat mulia, yakni “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam, dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil, makmur yang diridhoi Allah SWT”.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Dalam  perjalanannya, HMI senantiasa memprioritaskan proses pengkaderan kepada setiap anggota-anggotanya melalui jenjang-jenjang yang sudah ditetapkan. Tanggung jawab HMI kepada bangsa dan negara maujud dalam bentuk sumbangsih sumber daya manusia (SDM) melalui kader-kader terbaiknya, baik di level lokal, regional maupun nasional.

Idealnya, ber-HMI adalah ikhtiar untuk senantiasa membina kapasitas akademik dan intelektual agar bisa menumbuhkan daya cipta sosial dalam rangka mengabdi sebagai khalifah di bumi, mewujudkan keadilan dan kemakmuran.

Pada kenyataannya, tak dapat dipungkiri bahwa HMI telah banyak memberikan sumbangsih positif dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Peran signifikan HMI dalam menelorkan kader-kader terbaik pada berbagai lini kehidupan bangsa adalah kontribusi nyata organisasi ini.

Di pundak kader-kader tersebutlah, HMI menitipkan asa untuk terwujudnya kehidupan bangsa yang adil, makmur dan diridhoi Allah SWT. Dan siklus kaderisasi ini masih terus berulang hingga saat ini.

HMI dan Pergerakan Mahasiswa

Sebagai organisasi kemahasiswaan, maka basis keanggotaan HMI adalah mahasiswa. Karenanya, keterlibatan HMI dalam pergerakan mahasiswa adalah sebuah keniscayaan.

Tidak sedikit gerakan mahasiswa, terutama ketika berkaitan dengan isu-isu kebangsaan, digawangi oleh anak-anak HMI meskipun manifestasinya sering melalui lembaga intra-kampus. Kader-kader HMI berperan menjadi semacam think tank bagi pergerakan kemahasiswaan intra-kampus.

Karena perannya yang sangat strategis inilah membuat HMI memikul tanggung jawab besar sehingga harus senantiasa berjuang agar tetap eksis dan berkembang di setiap kampus perguruan tinggi. Hanya saja, sebagai lembaga ekstra-kampus, HMI menghadapi tidak sedikit hambatan dan rintangan.

Padahal, untuk menjaga kontinuitas organisasi, HMI mesti rutin membuka kran kaderisasi yang sasarannya adalah mahasiswa baru. Kebutuhan kaderisasi HMI inilah yang seringkali terbentur dengan kebijakan kampus yang kurang kooperatif, khususnya untuk lembaga ekstra-kampus. Apalagi di masa-masa sekarang ketika sebagian kampus sudah sangat otonom mengurus diri mereka sendiri, membuat sejumlah HMI komisariat yang mati suri, atau malah hilang sama sekali.

Perubahan kebijakan pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan pengelolaan perguruan tinggi, kian mempersempit ruang bagi tumbuhnya pergerakan mahasiswa. Selain ketat terhadap aktivitas-aktivitas lembaga kemahasiswaan, kondisi tersebut juga kian melemahkan daya kritis mahasiswa terhadap fenomena sosial kemasyarakatan.

Hari-hari belakangan ini, kita semakin jarang mendapati gerakan mahasiswa yang benar-benar massif, kritis dan terstruktur. Yang ada hanyalah gerakan reaktif dan cenderung emosional, nyaris tidak menyentuh akar masalah yang dikritisinya. Sebagian kecilnya lagi, malah rentan disebut aksi bayaran.

Inilah kondisi mahasiswa jaman now. Sebagian besarnya hanya asyik kuliah, memburu gelar akademik dan kemudian terlena dengan beragam aplikasi dan game di gawai-gawai mereka. Padahal kita sama mahfum, bahwa kondisi sosial, ekonomi dan politik di negeri ini sudah sangat memprihatinkan.

Tidak sedikit kebijakan pemerintah yang memasung hak rakyatnya sendiri. Rakyat kian menderita sementara pemerintah semakin larut dalam sandiwara politik tak berkesudahan. Kita benar-benar rindu hadirnya gerakan mahasiswa yang benar-benar menyuarakan hak rakyat, membela kebenaran, dan menyuarakan keadilan.

Revitalisasi Peran HMI

Di tengah surutnya pergerakan kemahasiswaan dewasa ini, mau tidak mau, HMI harus memberikan peran yang lebih vital. Meskipun hanya lembaga ekstra-kampus, HMI dituntut untuk bisa mengembalikan keadaan; menumbuhkan kembali daya kritis mahasiswa.

Peran seperti ini tentunya bukan hanya tugas HMI, melainkan juga menjadi tanggung jawab bersama organisasi kemahasiswaan lainnya. Tetapi melihat kekayaan sumber daya kader HMI saat ini, saya yakin HMI mampu melakukannya, meskipun memang terasa sangat berat.

Salah satunya adalah dengan terus menumbuhkembangkan budaya intelektual di HMI. Kader-kader HMI harus memiliki prestasi akademik yang tidak boleh buruk, sekaligus tetap berperan kritis sebagai seorang mahasiswa.

Sudah saatnya HMI memberikan batasan tegas terhadap budaya politik praktis yang dewasa ini begitu menggerogoti hampir setiap lembaga kemahasiswaan. Bahwa banyak alumni HMI menduduki jabatan politis, itu adalah fakta tak terbantahkan.

Tetapi keterlibatan alumni HMI dalam kancah politik praktis pada berbagai level kepemimpinan seharusnya tidak boleh dibawa masuk ke dalam organisasi HMI yang nota bene masih berisi mahasiswa. Biarlah politik praktis itu menjadi wilayah KAHMI, bukan HMI-nya.

Cukuplah adik-adik HMI yang menjalani dinamikanya sendiri sehingga bisa berproses sekaligus belajar secara langsung di dalamnya. Dengan demikian, independensi mereka benar-benar bisa dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, HMI pada level gerakan mahasiswa bisa menjadi lebih netral dan independen sehingga mampu memainkan peran strategis dalam membina kader-kader terbaik yang memiliki sensitifitas sosial yang kritis dalam bingkai intelektualitas.

Semoga melalui perhelatan Kongres HMI ke-XXX di Ambon saat ini, HMI mampu kembali menelorkan generasi kepemimpinan baru yang bisa membangkitkan kembali daya kritis mahasiswa tanpa terkooptasi kepentingan politik praktis yang kian menjemukan.

Yakin usaha sampai!

Published inOpinion

1 Komentar

  1. SETIN SETIN

    mohon para dermawan bantuandana untuk untuk biaya anak sekolah anak saya dan modal usaha dagang serta membayar utang tetangga untuk menhidupi keluarga seeklasnya tambun Desansumberjaya Kec. Tambun Selatan TLP 0812 989 22114

    Link Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons