Skip to content

BPOM dan Obat Halal

Gaduh soal kinerja Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kembali terdengar beberapa waktu terakhir. Hal ini didasari oleh temuan adanya 2 jenis obat yang selama ini beredar luas di masyarakat yang ternyata mengandung unsur dari babi, padahal telah mengantongi izin dari BPOM, yaitu Viostin DS dan Enzyplex.

Kasus seperti ini sesungguhnya bukanlah hal baru. Selama 2000-2018, setidaknya ditemukan 10 kasus, mulai dari makanan, obat-obatan, hingga kosmetik yang mengandung unsur dari babi. Yang berhubungan langsung dengan obat-obatan hanya empat kasus, yaitu soal vaksin meningitis (2009), fatwa MUI penggunaan vaksin polio khusus (IPV) pada 15 Juni 2002, vaksin polio oral (OPV) pada 25 Juli 2005 serta temuan 3 obat injeksi mengandung babi pada Desember 2013 (Lovenox, Fraxiparin dan Fuluxum).

Temuan-temuan seperti ini mau tidak mau kembali membuat kita mempertanyakan bagaimana kinerja pemerintah, khususnya BPOM yang bertugas memastikan setiap produk pangan dan obat-obatan benar-benar memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, persoalan halal-haram pada setiap produk obat dan makanan seharusnya mendapat porsi perhatian lebih dari pemerintah dan semua elemen terkait. Dalam ajaran Islam, haram adalah hal yang tidak bisa dikompromikan, kecuali jika keadaan sangat darurat dan tidak ada pilihan lain.

Perpres 80 tahun 2017 tentang BPOM menyebutkan bahwa fungsi BPOM adalah untuk menyelenggarakan pengawasan terhadap obat dan makanan baik sebelum beredar maupun selama beredar. Dalam hal ini adalah produk obat, bahan obat, narkotika, psikotropika, prekursor, zat adiktif, obat tradisional, suplemen kesehatan, kosmetik, dan pangan olahan.

Pengawasan ini dilakukan sebagai tindakan pencegahan untuk menjamin bahwa obat dan makanan yang beredar memenuhi standar dan persyaratan keamanan, khasiat dan manfaat, serta mutu produk yang ditetapkan.

Dari sini sebenarnya jelas bahwa BPOM tidaklah khusus dibentuk untuk mengawasi halal tidaknya obat atau makanan yang beredar, namun hanya dari aspek yang lebih umum terkait dengan standar keamanan, khasiat dan kualitasnya saja. BPOM tidak berwenang melarang produksi obat atau makanan yang mengandung babi asalkan telah memenuhi persyaratan yang berlaku.

Hanya saja, terkait dengan obat atau makanan yang mengandung unsur babi dan atau atau pada proses pembuatannya bersinggungan dengan bahan bersumber babi, maka produsen wajib memberikan tanda dan tulisan khusus pada kemasannya yang menyatakan bahwa produk tersebut mengandung babi.

Hal ini dijelaskan dalam Peraturan Kepala Badan POM No. 03.1.23.06.10.5166 Tahun 2010 tentang Pencantuman Informasi Asal Bahan Tertentu, Kandungan Alkohol, dan Batas Kedaluwarsa pada Penandaan/Label Obat, Obat Tradisional, Suplemen Makanan dan Pangan.

Terkait dengan kasus ini, baik Visotin DS maupun Enzyplex sebenarnya sudah memiliki izin edar dari BPOM. Ini artinya kedua obat itu telah memenuhi syarat. Namun kenapa kedua obat ini setelah sekian lama beredar terbukti mengandung babi dan tidak memiliki penanda khusus sebagaimana yang telah diatur?

Secara awam, ada 2 kemungkinan. Pertama, kedua obat tersebut memang mengandung unsur babi sejak awal tetapi tidak ditemukan dalam proses pengujian di BPOM sebelum keluarnya izin edar. Kedua, pihak produsen telah bertindak nakal dan mengakali BPOM dengan mengganti bahan obat dari unsur non-babi ke unsur yang mengandung babi karena alasan ekonomi.

Kemungkinan pertama sangat kecil meski tetap berpeluang terjadi. Pasalnya, BPOM kini telah memiliki perlengkapan laboratorium dengan teknologi tinggi sehingga bisa dengan tepat mengindentifikasi kandungan bahan dari obat dan makanan yang diuji. Kemungkinan kedua lebih besar peluangnya terjadi dan hal ini perlu penyelidikan lebih lanjut, tidak boleh didiamkan.

Karena itulah kinerja BPOM harus diperbaiki lagi meskipun harus diakui masih banyak kelemahan dari sisi kelembagaan di internal BPOM sendiri. Pengawasan tidak hanya fokus pada proses registrasi awal saja, tetapi mutlak dilakukan selama produk obat dan makanan beredar di masyarakat. Bukan hanya di kota-kota besar, tetapi juga di daerah pelosok yang selama ini jarang tersentuh.

Saat ini tak bisa pungkiri banyaknya produk makanan yang tidak jelas status kehalalannya dan setiap hari dikonsumsi bebas oleh masyarakat muslim. Karena itu, partisipasi aktif dari masyarakat, khususnya di daerah-daerah yang jauh dari kota besar tentu sangat diperlukan untuk mengidentifikasi adanya produk-produk yang tidak jelas status halalnya. Masyarakat bisa langsung melaporkan setiap produk yang diduga tidak halal kepada BPOM atau aparat penegak hukum untuk ditindaklanjuti.

Melalui UU No.33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH), pemerintah menegaskan bahwa setiap produk yang masuk, beredar dan diperdagangkan di Indonesia wajib memeiliki sertifikat halal, termasuk obat-obatan. Dengan regulasi ini, kita berharap kinerja BPOM dan lembaga terkait lainnya bisa lebih maksimal sehingga kaum muslim yang mayoritas di negeri ini benar-benar terlindungi dari peredaran produk obat dan makanan yang tidak halal.

)* Asri Tadda adalah Direktur Eksekutif Madising Foundation

Published inOpinion

Silahkan Berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

[+] kaskus emoticons